Dua Kali Hamil Dalam Satu Tahun

October 18, 2017

Kehamilan adalah masa yang pasti dinanti dan diinginkan setiap wanita yang sudah menikah. Dengan hamil dan juga melahirkan seorang bayi yang lucu akan membuat hidup seorang wanita menjadi lebih lengkap.

Begitu pula dengan saya.

Saya menikah di usia 24 tahun. Awalnya saya dan suami ingin dan sepakat memprogram kehamilan setelah satu tahun menikah. Karena ada beberapa hal yang ingin kami prioritaskan.

Tapi pada kenyataannya, saya selalu terbayang-bayang memiliki anak. Ingin sekali segera memiliki momongan. Dengan adanya anak pasti hidup kami akan lebih berwarna, lebih bahagia.

Saya sudah membayangkan bagaimana ramainya hari-hari saya dengan adanya malaikat kecil. Membayangkan bagaimana serunya jalan-jalan bertiga bersama suami dan anak.

Maka setelah kurang lebih enam bulan menikah, kami mulai merencanakan kehamilan. Sebelumnya kami tidak menggunakan KB apapun. Karena kata banyak orang kalau pakai KB nanti agak susah untuk bisa langsung hamil.

Namun Allah memang sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Meskipun sudah ikhtiar merencanakan kehamilan, toh kenyataannya saya tidak bisa langsung hamil. Sekian bulan ikhtiar tapi tidak kunjung positif. Muncul sedikit rasa kecewa tiap datang bulan.

Oktober 2016 saya mulai telat haid. Wah, rasanya sudah senang sekali. Padahal baru telat haid saja, belum tahu positif hamil atau tidak. Harapan kami mulai membesar.

Telat satu minggu haid saya coba testpack tapi garis yang terlihat masih samar. Saya coba test lagi setelah dua minggu masih juga samar. Sampai saya beli testpack yang lebih mahal, yang bisa digunakan kapan saja. Hasilnya masih juga samar.

Katanya kalau garis testpack samar bisa jadi positif. Tapi saya masih kurang yakin. Ya sudah, saya pasrah saja. Saya simpan semua testpack yang sudah terpakai.

Keesokan harinya saya penasaran. Saya buka kembali salah satu testpack. Masyaallah. Dua garis sudah terlihat jelas. Keyakinan saya pun bertambah besar. Langsung saya ke bidan, dan Alhamdulillah memang positif hamil.

Dan itu berarti tepat satu tahun. Saya menikah Oktober 2015. Dan akhirnya saya positif hamil setelah telat haid Oktober 2016. Apa yang kami utarakan saat awal menikah benar-benar direstui oleh Allah.

Kata-kata memang bisa menjadi sebuah doa. Makanya harus hati-hati jika berkata-kata.

Kehamilan pertama yang tidak berjalan lancar

Saat itu saya masih bekerja di sebuah perusahaan tour & travel. Sebagai admin, sebenarnya pekerjaan saya tidak terlalu berat. Pekerjaan saya lebih banyak duduk di kantor. Saya juga merasa sehat. Tidak pusing, mual apalagi sampai muntah berlebihan.

Tapi beberapa kali saya mengalami flek-flek. Karena baru pertama kali hamil, saya agak sedikit khawatir. Kemudian saya bertanya pada beberapa orang, juga saat kontrol ke Puskesmas dan dokter Spog, katanya masih wajar. Bisa jadi itu adalah flek karena janin yang menempel di dinding rahim. Masih aman asal tidak keluar darah segar berlebihan dan disertai sakit perut.

Tiap saya kelelahan, pasti keluar flek-flek. Terkadang juga setelah berhubungan dengan suami, keluar flek sedikit. Terkadang juga saya mengalami keputihan tapi sepertinya masih normal dan wajar.

Januari 2017 adalah bulan terakhir saya bekerja. Jadi sejak Februari 2017 saya full di rumah. Istirahat penuh agar kehamilan yang menginjak 4 bulan jadi lebih sehat dan lancar.

Sabtu, 4 Maret 2017 saya kontrol dan USG ke dokter Spog di usia kehamilan 23 minggu. Semua normal dan sehat. Juga sudah terlihat jenis kelamin calon bayi kami. Hanya saja kata dokter bayinya agak pusing, karena terlihat tangannya memegang kepala.


Ternyata benar, jika si Ibu stress, janin pun akan ikut stress. Saya sedang banyak pikiran karena kami sedang proses membangun tempat tinggal. Harapan saya tempat tinggal kami bisa selesai sebelum saya melahirkan. Beberapa hari sebelumnya saya bingung  mengatur keuangan dari sisa tabungan juga dari pencairan dana BPJS Ketenagakerjaan. Mungkin karena itu janin dalam rahim saya ikut pusing.

Senin, 6 Maret 2017 saya minta suami libur untuk menemani saya mengurus pencairan BPJS Ketenagakerjaan yang sudah saya kumpulkan selama 3 tahun bekerja. Dari pagi sampai tengah hari urusan baru selesai. Sedikit lelah memang.

Sampai rumah saya pun istirahat dan tidur. Menjelang sore hari perut saya rasanya bermasalah. Seperti masuk angin, sedikit terasa mulas. Saya oles minyak kayu putih tapi tidak juga membaik.

Rasanya seperti ingin buang air besar tapi susah. Agak saya paksa tapi setelahnya keluar flek darah. Makin malam rasanya perut makin sakit. Sempat menunjukkan ke suami perut yang terasa keras dan kencang. Saya tidak tahu kalau ternyata itu kontraksi.

Tengah malam saya ke UGD Puskesmas dekat rumah. Kata bidan jaga di sana disuruh menunggu, disarankan juga minum air hangat agar tidak kencang lagi perutnya. Tidak dapat pengobatan apapun. Kemudian saya kembali pulang.

Sampai di rumah, saya kembali tiduran. Berharap bisa tidur tapi ternyata tidak bisa. Perut masih terus sakit. Karena tidak tahan, saya memutuskan berobat ke UGD RSIA Puri Bunda yang juga tidak jauh dari rumah. Berharap setidaknya dapat obat yang bisa mengatasi rasa sakitnya.

You Might Also Like

0 comments